KJP Dicabut, 9 Pelaku Bully di Thamrin City Dikeluarkan dari Sekolah

By On Juli 17, 2017

SEPUTARMUSI.COM -- Sembilan siswa pelaku bullying kepada SB siswa kelas V sekolah dasar di Thamrin City, Jakarta Pusat, dikeluarkan dari sekolah dan dicabut haknya untuk mendapatkan Kartu Jakarta Pintar (KJP). 


Keputusan ini dilakukan oleh dewan guru di sekolah para pelaku bullying. "Iya, aturannya begitu, dikembalikan ke orang tua. Itu keputusan dari dewan guru yang tertinggi. Jadi kita juga tidak bisa mengintervensi. Guru itu kan ada semacam dewan guru," ujar Sekretaris Dinas Pendidikan DKI Jakarta Susi Nurhati saat dikonfirmasi detikcom, Senin (17/7/2017). Dewan guru telah melakukan klarifikasi kepada para pelaku atas bullying yang dilakukan terhadap SB. Pelaku telah mengakui kesalahannya dan bersedia menerima sanksi dari sekolah serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Baca halaman selanjutnya: 1 2>

Hati-hati! Sikap Orangtua Ini Justru 'Meracuni' Kepribadian Anak

By On Juli 17, 2017

SEPUTARMUSI.COM -- Banyak orang berpendapat pekerjaan paling sulit di dunia adalah menjadi orangtua. 


Tak ada sekolah formal untuk ayah dan ibu agar menjadi orangtua yang baik. Anak-anak pun ada kalanya jadi penurut, namun seringkali juga melawan. Gaya pengasuhan orangtua jadi penentu utama pembentukan kepribadian anak. Ada yang sangat ketat dan mengendalikan setiap aspek kehidupan anak. Ada juga yang melepas anak begitu saja, membiarkannya membuat keputusan dan merasakan kesalahannya sendiri. Beda gaya pengasuhan, tapi satu yang pasti semua orangtua ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Sebagai orangtua kita seringkali melakukan kesalahan dalam mengasuh, tapi usahakan untuk menghindari sikap-sikap berikut. Efeknya, bisa 'meracuni' kepribadian anak
Baca halaman selanjutnya: 1 2 3

Alhamdulilah, Bocah Pengayuh Sepeda Palembang-Tangerang Dapat Beasiswa

By On Juli 03, 2017

SEPUTARMUSI.COM -- Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah memastikan dua anak, Muhammad Okta Firmansyah (15 tahun) dan Rizal (14 tahun) yang mengayuh sepeda dari Sumatra Selatan ke Tangerang akan mendapatkan pendidikan gratis dari Pemkot Tangerang melalui Program Tangerang Cerdas.



Wali Kota Arief, di Tangerang, Senin (3/7), menegaskan akan menjamin biaya pendidikan Okta dan Rizal melalui Program Tangerang Cerdas yang dimiliki Pemkot Tangerang. "Anak-anak ini harus bersekolah. Nanti akan dibiayai dengan Program Tangerang Cerdas," katanya, usai mengunjungi kedua kakak beradik tersebut yang kini telah bertemu dengan kedua orang tuanya di Jl Gg H Jaini RT 02/10, Kreo, Larangan.

Kedua kakak beradik yang ditemani oleh rekannya Aslam (11) itu, telah mengayuh sepeda selama lima hari lima malam dari rumah nenek mereka di Indralaya, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan untuk bertemu ibu mereka di Tangerang. Ketiganya memutuskan pulang ke rumah, setelah satu bulan lebih tinggal di rumah nenek mereka di Palembang.

Kisah Okta (15), sapaan Muhammad Okta Firmansyah, dan Rizal (14) yang akrab dipanggil Muhammad Afrizal merupakan kakak beradik dan sempat viral di media massa dan media sosial lantaran aksinya bersepeda dari Palembang ke Kota Tangerang, untuk mengunjungi orang tuanya turut menarik perhatian Pemkot Tangerang.

Wali Kota juga menyampaikan rasa kagum dan bangga kepada orang tua Okta dan Rizal atas usaha yang dilakukan oleh kedua kakak beradik ini untuk mengobati rasa rindu mereka kepada kedua orang tuanya.

Wali Kota juga berpesan kepada Muhammad Nasir dan Sulastri yang merupakan orang tua Okta dan Rizal, untuk lebih memperhatikan seluruh buah hatinya agar di masa depan bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. "Anak-anak harus dijaga dan diperhatikan supaya nantinya bisa punya kehidupan yang lebih baik dari orang tuanya," katanya.

Sumber : Antara

Ini Alasan Mendikbud Terapkan Sekolah Lima Hari

By On Juni 13, 2017

SEPUTARMUSI.COM, JAKARTA -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menerapkan kebijakan lima hari sekolah dalam sepekan. Pada hari Sabtu dan Ahadn akan menjadi hari libur baik bagi murid maupun guru. 



Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, kebijakan ini sudah sesuai dengan standar kerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Sebab, dalam lima hari kerja tersebut, waktu pembelajaran minimum menjadi delapan jam. Sehingga, dalam sepekan para guru akan mengajar selama 40 jam.

“Alasannya nanti sudah diperpanjang waktu belajarnya. Minimun 8 jam itu. Jadi kalau minimum 8 jam, kalau 5 hari masuk, jadi udah 40 jam per minggu. Dan itu sudah sesuai standar kerja ASN untuk guru, jadi kalau sudah itu sudah melampaui standar kerja ASN sehingga guru mengikuti standar itu,” kata Muhadjir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/6). 

Sebelumnya, Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sumarna Surapranata mengatakan kebijakan lima hari sekolah dalam sepekan akan mulai diterapkan Juli 2017. Menurut dia, pemerintah sedang mengodok regulasi terkait kebijakan ini. Sementara terkait regulasi yang mengatur waktu kerja guru dan kepala sekolah, kata dia, sudah tertuang dalam PP No 19 Tahun 2005.

Ia menjelaskan, dalam aturan tersebut, waktu kerja guru dan kepala sekolah mencapai 40 jam per pekan dengan waktu istirahat sekitar 30 menit per hari, atau waktu kerja aktif 37,5 jam per pekan. (republika.co.id)

Mengenang Persinggahan Laksamana Cheng Ho di Palembang

By On Mei 30, 2017

SEPUTARMUSI.COM, PALEMBANG -- Persinggahan Laksamana Cheng Ho ke tanah nusantara tidak hanya berpusat di satu daerah saja. Ada beberapa daerah yang sempat disinggahi, seperti Semarang, Palembang, Aceh dan sejumlah daerah lainnnya.


Di tanah Palembang, Laksamana Cheng Ho datang ketika masih masa kerajaan Sriwijaya akan berpindah ke Majapahit. Keberadaan Laksamana Cheng Ho di Palembang pun kini diabadikan dengan adanya replika kapalnya di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) di Jl Syakhyakirti, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Gandus Palembang.

Kapal yang memiliki panjang 15 meter itu dicat dengan perpaduan warna hijau, kuning, putih, dan merah. Replika tersebut diresmikan 23 Juli 2016 lalu, sebagai tanda selama 7 kali perjalanan samudera, kurun waktu 1405-1433 M. Sementara Cheng Ho melintasi Palembang empat kali.

Perjalanan Samudera Cheng Ho tergambar dari peta pelayaran yang juga terpajang di TPKS tersebut. Bahkan disebut-sebut, Cheng Ho pertama kali yang mengelilingi dunia sebelum Christopher Columbus.

Alkisah, 11 Juli 1405 Kekaisaran Tiongkok mengirim 317 kapal untuk berkeliling dunia dengan membawa misi 'Ekspedisi Harta Karun' diperkuat 28 ribu awak kapal. Nah, Laksamana Cheng Ho yang memimpin ekspedisi ini.

Peneliti Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo mengungkapkan datangnya sang Laksamana ke berbagai wilayah termasuk Palembang karena membawa perintah Kaisar baru Dinasti Ming. “Pertama kunjungan secara umum. Yaitu mengajak kerajaan-kerajaan di nusantara termasuk Palembang, agar tetap berdagang dengan Kaisar baru,” jelas Bambang

Selain misi itu, kedua saat akhir runtuhnya Kerajaan Sriwijaya. Sang Laksamana datang untuk menangkap perompak asal Tiongkok yang menguasai Sriwijaya.

“Secara de facto, saat itu Sriwijaya sudah runtuh dan Palembang di bawah Majapahit. Tapi, berita Sriwijaya di bawah kendali perompak ini membuat Kaisar China mengirim Laksamana Cheng Ho,” ujarnya.

Dengan tujuan, lanjut Bambang, kedatangan Cheng Ho lebih dominan atas dasar diplomasi serta kebudayaan. Tidak itu saja, sebagai penganut Agama Islam, sang Laksamana juga menyampaikan dakwah atas keinginan pribadi.

Karena pada masa itu, para penganut Islam gencar melakukan dakwah, menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. “Dampaknya memang banyak komunitas Tionghoa yang masuk Islam,” ucapnya.

Itulah kenapa hubungan wong Palembang dengan warga Tiongkok sudah terjalin sejak lama. Kedatangan Cheng Ho juga membawa akulturasi budaya Tiongkok dan Palembang. Itu bisa dilihat dari pembauran kedua masyarakat.

Seperti Masjid Muhammad Cheng Ho Sriwijaya yang dibangun di kawasan Jakabaring hingga barang-barang niaga dari masa itu. Sebut saja  lakuer atau hiasan pada nampan, lemari ataupun kursi.

Hiasan berbentuk bunga, binatang ataupun motif itu, semua berasal dari Tiongkok. “Termasuk teknologinya. Di Indonesia, tidak ada lakuer seperti Palembang. Cuma ada di Thailand dan Nyanmar,” cetusnya.

Kedua songket. Meski seluruh bangsa Melayu relatif ada jenis songket, tetapi warna merah serta motif songket Palembang identik dengan Tiongkok. “Yang ketiga itu kuliner. Pempek itu dikabarkan juga berasal dari Tiongkok,” jelasnya

Sumber: jawapos.com

Per 1 Juni Santunan Kecelakaan Naik 100 Persen

By On Mei 29, 2017

SEPUTARMUSI.COM, PALEMBANG -- Kepala PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Sumsel Taufik Adnan memastikan per 1 Juni 2017 santunan korban kecelakaan naik 100 persen. Kenaikan ini berdasarkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) RI yang dikeluarkan pada tanggal 13 Februari 2017.
Kepada PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Sumsel Taufik Adnan yang memaparkan besaran santunan pada acara sosialiasi di Ballroom Novotel Jalan R Sukamto Palembang, Senin (29/5/2017)


"Mulai 1 Juni 2017 santunan kecelakaan naik 100 persen. Tanpa diikuti kenaikan kenaikan premi atau iuran dari golongan kendaraan tertentu," katanya pada acara sosialiasi di Ballroom Novotel Jalan R Sukamto Palembang, Senin (29/5/2017).


Taufik mengatakan, untuk korban meninggal dunia semulanya Rp 25 juta, naik menjadi Rp 50 juta, begitu pula pada korban yang mengalami cacat tetap mendapat santunan sebesar Rp 50 juta. 
"Pelayanan kita terus tingkatkan kita akan total untuk memberikan pelayanan," katanya. 
 Kepala Bagian Operasional PT Jasa Raharja Cabang Sumsel A.A Ngurah Yudi Sudarma, menjelaskan perubahan besaran santunan yang naik 100 persen kepada tamu undangan yang hadir.

" Biaya berobat itu mahal, apalagi sampai meninggal kehilangan suami atau keluarganya. Inilah sebabnya santunan dipandang perlu dinaikan," katanya. 
Pihaknya memastikan dalam mewujudkan pelayanan yang prima, pihaknya terus mempercepat penyelesaian pembayaran santunan kepada korban meninggal dunia lakalantas di TKP dalam kurun 1 hari dan maksimal 6 hari.
Besaran Santunan Berdasarkan Permenkeu RI yang dikeluarkan pada tanggal 13 Februari 2017 dan Berlaku 1 Juni 2017 :

1. Meninggal Dunia
Dari Rp25 Juta menjadi Rp50 Juta
2. Cacat Tetap
Dari Rp25 Juta menjadi Rp50 Juta
3. Biaya Perawatan
Dari Rp10 juta menjadi Rp20 juta
4. Penggantian Biaya P3K
Semula tidak ada menjadi Rp1 juta
5. Penggantian Biaya Ambulans
Tidak ada menjadi Rp500 ribu
6. Biaya Penguburan
Semula Rp2 Juta menjadi Rp4 Juta

Sumber: Sosialisasi PT Jasa Raharja Sumsel 

Sirkuit MotoGP Siap Bangun di Palembang, Medapat Titik Terang

By On Mei 28, 2017

Gubernur Sumater Selatan, H Alex Noerdin bersama perwakilan Dorna. Copyright: Internet

SEPUTARMUSI.COM -- Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu daerah yang sempat disebut mendapat persetujuan untuk membangun Sirkuit MotoGP, tapi Gubernur Sumater Selatan, H Alex Noerdin santai menanggapi hal itu. Ia justru optimistis pembangunan sirkuit tersebut tetap di Jakabaring, Palembang tetap terlaksana.

"MotoGP di Palembang sudah ada titik terang," ungkap orang nomor satu di Sumsel ini, Jumat (26/05/17).

Bahkan, pihaknya sudah mengantungi satu investor yang siap membangun Sirkuit MotoGP yang nantinya bakal dibangun di atas lahan seluas 120 hektar di Jakabaring ini.

“Insya Allah sudah ada titik terang. Titik terang ini termasuk untuk investornya," katanya singkat.

"Saat ini hanya Provinsi Sumsel yang paling siap untuk pembangunan sirkuit MotoGP. Apalagi kalau masterplan saja belum dibuat, bagaimana mau disetujui oleh Dorna. Jadi mau bangun apa?" jelas Alex.

Caption Copyright: internet
Masterplan Sirkuit Jakabaring.

Untuk diketahui, Sumsel menyiapkan lahan seluas 120 hektar untuk Sirkuit MotoGP di Jakabaring dengan panjang mencapai 4,31 kilometer. Di mana ideal panjang lintasan itu 4,27 kilometer.

Sirkuit tersebut juga akan memiliki sebanyak 14 tikungan yang terdiri dari lima tikungan ke kanan dan sembilan tikungan ke kiri.

Selain 14 tikungan, juga terdapat trek lurus sepanjang 750 meter yang bisa memacu kecepatan hingga 303 kilometer per jamnya dengan rata-rata kecepatan seluruh trek yang ada 171 kilometer per jam.

Sedangkan lebar lintasan sepanjang 12 meter. Namun, untuk lebar lintasan di start atau finish lebih lebar dua meter, yakni 14 meter.

Lalu, Sirkuit MotoGP Palembang nantinya terdapat sembilan tribun yang mampu menampung 130 ribu penonton dan administrasi.  

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==